Buku Tamu


ShoutMix chat widget

Menyelami Hakikat Kehidupan

Minggu, 28 Februari 2010

Pernahkah kita tanya pada seorang nenek yang tua renta, sekitar 70 tahunan. Tanyalah padanya, bagaimana kehidupan yang dijalaninya ? Mungkin ia akan berkomentar : Hidup ini begitu singkat diluar dugaan dia ketika masih muda, ketika dia masih memegang prinsip muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk syurga. Tapi, begitu dia sudah beranjak tua, apakah dia berpikir sebagai prinsipnya ? tua kaya raya ? Takkan pernah ada yang berpikir seperti itu, kecuali orang-orang yang menganggap hidup ini masih panjang atau bahkan tidak percaya dengan kematian.
Kehidupan yang dia jikalau kembali untuk diceritakan hanya cukup enam atau tujuh jam saja. Selama tujuh puluh tahun kehidupan hanya diringkas dalam seberapa jam saja yang tidak cukup dari separuh waktunya. Sekarang ini marilah kita renungkan kembali sebenarnya hakikat kita dilahirkan oleh allah itu untuk apa ? Kita ini adalah makhluk yang lura biasa sekali sehingga malaikat pun hormat pada kedudukan kita.

Allah menciptakan kita adalah untuk menjadi wakilnya di bumi ini. Bukan berarti manusia harus mengeksploitasi seluruh kepunyaan Dia. Allah hanya menitipkan sebentar saja, karena suatu saat Dia pasti akan kembali memintanya.
Allah menciptakan manusia dan kemudian menyuruh untuk jadi wakilNya di bumi ini adalah hakikat manusia secara kepemimpinan. Dan hakikat manusia secara aplikasinya adalah menyembah Allah dengan segala kepasrahan tanpa ada paksaan untuk itu. Dan dengan itu nantinya akan mucul yang namanya Rukun iman. Tapi, manusia sering lupa akan kelemahan mereka. Kelemahan mereka tertutup dengan kesombongan yang dimiliki oleh iblis. Allah menjadikan harta, anak dan istri yang cantik adalah untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada manusia. Akan tetapi, lihatlah sebagian orang, mereka lemah terhadap materi yang diberikan oleh allah, mereka menjadi sombong karenanya.
Materi-materi yang Allah berikan sudah pasti akan hancur binasa. Hanya orang-orang yang sabar dan tabah jika materi-materi mereka hilang. Akan tetapi, orang-orang yang tak paham dengan hal itu, mereka akan ikut binasa olehnya. Hakikat orang-orang yang mencari materi saja akan membuat mereka senang secara lahir. Entah disadari atau tidak. Mereka tidak tahu bagaimana cara membahagiakan diri. Oleh karena itu mereka selalu memperkaya diri mereka dengan materi yang dimilkinya. Kekayaan itulah yang terkadang membuat hakikat kehidupan menjadi sempit, karena hanya terbatas pada lahir saja. Bandingkan jikalau ia memahami bahwa didunia luar sana yang dijanjikan oleh Allah jauh lebih baik dari semuanya. Manusia sekarang memang sebih suka instan. Mereka malas untuk menunggu, apalagi hal-hal yang ghoib yang oleh orang-orang barat digaungkan tidak ada kehidupan setelah mati. Mereka menutupi hal ini karena mereka takut mati. Mereka mencoba seluruh perhiasan-perhiasan atau apalah untuk menjadikannya kembali muda dan umur panjang.
Materi yang kita miliki ini semua ini adalah hanya sebuah ilusi yang menipu. Dipahami atau tidak. Kenyataan dunia yang kita tempati ini hanyalah sebuah citra yang diciptakan untuk menguji manusia. Manusia diuji oleh berbagai persepsi-persepsi yang tidak mengandung realita. Dan persepsi ini sengaja dihadirkan untuk menggoda dan memikat. Waktu yang digunakan setiap manusia untuk mengejar kehidupan dunia ini tidaklah berguna, hanya terhenti ketika pekerjaan itu selesai. Menyingkirkan agama demi nafsu imajiner adalah kebodohan besar yang menyebabkan hilangnya kesempatan untuk kehidupan penuh berkah di surga.
Sehingga hakikat kehidupan manusia disini terbagi menjadi dua bagian. Ada yang masih tertipu dengan materi imajiner yang sebenarnya tidak terlihat, akan tetapi itu dibuat untuk memikat hati setiap manusia. Dan ada yang memahami bahwa hakikat kehidupan ini hanyalah sebagai uji coba ketahanan seseorang terhadap materi. Apa yang dia pilih nantinya ? materi dunia atau syurga ?
Wallahu ‘alam bishowab

0 komentar:

Poskan Komentar